AdvertorialGorontaloPendidikan

Deretan Papan Ucapan dari Sejumlah Tokoh Hiasi Gedung Wisuda IAIN Sultan Amai Gorontalo, Ini Sosok di Baliknya

1032
×

Deretan Papan Ucapan dari Sejumlah Tokoh Hiasi Gedung Wisuda IAIN Sultan Amai Gorontalo, Ini Sosok di Baliknya

Sebarkan artikel ini
Ovenly Utomo Silangen selepas prosesi wisuda pasca sarjana IAIN Sultan Amai Gorontalo (foto:Istimewa)

Id.Sulawesi.com, GORONTALO — Deretan papan ucapan dari sejumlah tokoh menghiasi halaman Gedung Wisuda IAIN Sultan Amai Gorontalo. Karangan bunga tersebut menjadi ucapan selamat atas capaian salah satu wisudawan yang menyelesaikan pendidikan magister, sekaligus memperlihatkan luasnya jejaring yang terbangun dari perjalanan akademik, organisasi, kepemudaan, dan dunia usaha. Jum’at, (14/8/2026).

Sosok di balik deretan ucapan tersebut adalah Ovenly Utomo Silangen. Ia menyelesaikan pendidikan magister di IAIN Sultan Amai Gorontalo. Capaian itu mendapat apresiasi dari sejumlah tokoh, kolega, keluarga, aktivis, hingga mitra profesional yang selama ini mengenal perjalanan dan aktivitasnya di berbagai bidang.

Sejumlah tokoh turut menyampaikan ucapan selamat, di antaranya Menteri Pertanian Republik Indonesia, Anggota DPR RI Elnino Mohi, Anggota DPD RI Syarif Mbuinga, Anggota DPRD Bone Bolango Rakhmatiyah Deu, Kadis PUPR Kota Gorontalo Meydi Novieta Silangen, serta Ketua PC Pergunu Kota Gorontalo sekaligus Ketua PGRI Cabang Khusus Kemenag Kota Gorontalo Sutarjo Paputungan. Ucapan selamat juga datang dari pelaku usaha, dan sejumlah mitra profesional Ovenly di dunia usaha, termasuk kalangan notaris dan perbankan.

Deretan papan ucapan tersebut menjadi gambaran bahwa perjalanan Ovenly tidak hanya berlangsung di ruang akademik. Ia selama ini bersentuhan dengan berbagai lingkungan, mulai dari pendidikan, organisasi kepemudaan, organisasi profesi, entrepreneurship, hingga dunia usaha.

Di bidang pendidikan, Ovenly memiliki perhatian terhadap penguatan kualitas sumber daya manusia. Pengalamannya dalam organisasi juga membuatnya melihat pendidikan bukan sekadar proses memperoleh gelar, melainkan bagian dari upaya membentuk karakter, kemampuan berpikir, dan keberanian mengambil tanggung jawab.

“Saya percaya pendidikan bukan sekadar menghasilkan orang yang memiliki ijazah. Pendidikan harus membentuk manusia yang mampu berpikir, memiliki karakter, keterampilan, dan keberanian mengambil tanggung jawab di tengah masyarakat,” ujar Ovenly.

Perjalanan organisasinya juga cukup beragam. Ovenly saat ini aktif di KNPI, ABPEDNAS, dan Gerakan Pemuda Ansor. Ia juga terlibat sebagai Sekretaris PC Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Kota Gorontalo sebagai bagian dari aktivitasnya di bidang pendidikan dan organisasi profesi.

Selain aktivitas pendidikan dan organisasi, alumni HMI itu juga mengembangkan kiprah di dunia entrepreneurship melalui Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), Idepreneurs Club, dan Realestate Indonesia (REI). Pengalaman tersebut kemudian beririsan dengan dunia usaha, termasuk keterlibatannya sebagai Komisaris PT Cimed Sarana di sektor real estate developer.

Aktivitas tersebut mempertemukannya dengan berbagai kalangan profesional, mulai dari pelaku usaha, notaris, hingga perbankan. Jejaring yang terbentuk dari berbagai aktivitas itu kemudian turut terlihat dari beragamnya pihak yang memberikan ucapan selamat atas capaian akademiknya.

Bagi Ovenly, pendidikan, organisasi, dan dunia usaha bukanlah ruang yang berdiri sendiri. Ketiganya dapat saling melengkapi. Pendidikan memberikan pengetahuan dan cara berpikir, organisasi membentuk karakter serta kepemimpinan, sementara entrepreneurship atau dunia usaha mengajarkan keberanian melihat peluang dan membangun kemandirian.

“Pendidikan harus melahirkan keberanian untuk menciptakan peluang. Anak muda jangan hanya dipersiapkan menjadi pencari kerja, tetapi juga harus memiliki kapasitas untuk menciptakan pekerjaan dan membangun kemandirian ekonomi,” tuturnya.

Capaian magister yang diraihnya pun tidak ingin ia jadikan sebagai titik akhir. Ovenly ingin menjadikan pengalaman akademik tersebut sebagai bagian dari perjalanan yang lebih panjang dengan mempertemukan ilmu, pengalaman organisasi, kepemudaan, dan entrepreneurship dalam kerja yang memberikan manfaat.

Ia berharap pengalaman yang diperoleh dari berbagai ruang tersebut dapat terus dikembangkan untuk memberikan kontribusi bagi pendidikan, pemberdayaan pemuda, dunia usaha, dan pembangunan daerah.

“Gelar magister bagi saya bukan akhir dari perjalanan, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar. Ilmu akan kehilangan maknanya jika hanya berhenti di ruang akademik. Ia harus turun menjadi gagasan, gerakan, dan manfaat bagi orang banyak,” pungkasnya.