DaerahKabupaten BuolSulawesi Tengah

Perkuat Kesiapsiagaan Bencana, Pemda Buol Apresiasi Langkah Survei BMKG Gorontalo dan Toli-Toli

52
×

Perkuat Kesiapsiagaan Bencana, Pemda Buol Apresiasi Langkah Survei BMKG Gorontalo dan Toli-Toli

Sebarkan artikel ini

IdSulawesi.com,BUOL– Pemerintah Kabupaten Buol memberikan apresiasi tinggi atas langkah cepat Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Gorontalo dan Stasiun Toli-Toli dalam melakukan survei lapangan guna memetakan potensi bencana. Langkah kolaboratif ini dinilai sangat krusial dalam memperkuat kesiapsiagaan serta menyusun strategi mitigasi yang efektif di wilayah tersebut.

Apresiasi tersebut disampaikan langsung oleh Wakil Bupati Buol, Moh. Nasir Dj. Daimaroto, S.H., M.H., didampingi Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Buol, Moh. Kafi Marjuni, S.P., saat menerima kunjungan tim BMKG di halaman kantor Bupati yang menjadi salah satu titik sampel survei.

“Kami atas nama Pemerintah Daerah dan seluruh masyarakat Kabupaten Buol mengucapkan terima kasih dan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada jajaran BMKG Gorontalo dan Toli-Toli. Kehadiran bapak-bapak sekalian untuk melakukan survei di wilayah kami adalah langkah nyata yang sangat berharga untuk keselamatan warga kami,” ujar Wabup Moh. Nasir.

Wabup menjelaskan bahwa letak geografis Kabupaten Buol memiliki kerentanan yang cukup tinggi terhadap berbagai potensi bencana alam. Oleh karena itu, data hasil survei yang akurat dan terkini sangat dibutuhkan sebagai dasar pengambilan kebijakan, khususnya dalam mendeteksi dini ancaman bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor, serta bencana seismik.

Senada dengan hal tersebut, Kepala Pelaksana BPBD Buol, Moh. Kafi Marjuni, menyatakan kesiapan instansinya untuk menindaklanjuti hasil survei dan berkolaborasi penuh di lapangan bersama tim BMKG. Sinergi lintas sektoral ini diharapkan dapat membantu BPBD dalam memperbarui peta rawan bencana serta memperkuat sistem peringatan dini (*Early Warning System*) dari tingkat desa hingga kecamatan.

“Data dari survei BMKG Gorontalo dan Toli-Toli ini akan sangat membantu kami di BPBD untuk bekerja lebih responsif dan presisi. Kami siap mendukung penuh seluruh rangkaian kegiatan survei ini agar berjalan dengan lancar,” tegas Moh. Kafi.

Metode Survei dan Target Output

Staf Pengamat Meteorologi dan Geofisika Stasiun Geofisika Gorontalo BMKG, Asyer Oktaf, menjelaskan bahwa pengambilan data di lapangan menggunakan metode perekaman getaran alami tanah (microtremor) di permukaan. Melalui konfigurasi titik rekam tertentu, metode ini mampu mengeksplorasi dan menjelaskan karakteristik struktur bawah permukaan secara akurat hingga kedalaman puluhan meter.

Survei pemetaan ini difokuskan pada area pemukiman warga serta beberapa desa terdampak yang sebelumnya dilaporkan mengalami kerusakan fisik akibat gempa bumi pada Minggu, 12 Juli lalu. Hasil akhir dari pengolahan data teknis lapangan ini nantinya akan disajikan dalam tiga bentuk dokumen utama:

1. Peta Spasial Kerentanan Tanah, Peta tematik yang memetakan zona tanah lunak hingga keras di seluruh Kabupaten Buol untuk mengidentifikasi tingkat kerawanan secara geografis.

2. Rekomendasi Strategis Pemda, Dokumen parameter mikrozonasi sebagai basis kebijakan tata ruang, standarisasi bangunan tahan gempa, serta perencanaan mitigasi bencana jangka panjang bagi Pemda Buol.

3. Laporan Kompilasi Pusat, Data terverifikasi yang akan diintegrasikan dengan BMKG Pusat di Jakarta guna memperbarui basis data kegempaan nasional.

Selain fokus melakukan survei mikroseismik, tim BMKG juga aktif menjalin koordinasi dan sosialisasi kepada jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Buol. Edukasi ini mencakup penyampaian data terkini mengenai aktivitas gempa susulan (aftershocks) serta data kerusakan yang terjadi secara berkala.

Di akhir kesempatan, pihak BMKG mengimbau kepada seluruh masyarakat Kabupaten Buol agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu-isu yang tidak bertanggung jawab. Masyarakat diharapkan selalu menyaring informasi kegempaan dan memastikan data yang diperoleh hanya bersumber dari kanal resmi terpusat, yakni melalui BMKG atau BPBD setempat guna meminimalisir penyebaran berita bohong (hoaks) yang dapat memicu kepanikan massal.